Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Bertanya atau Mati! (Multiplied)

Posted by Isman on Nov 16, '07 3:14 AM for everyone
Asumsikan Anda seorang pria muslim dan salat Jumat di Masjid Salman Bandung. Di sini, banyak anak menjajakan lembaran koran bekas untuk alas salat. Bahkan saat khatib (pendakwah) sudah mulai berbicara, mereka masih hilir mudik, menawarkan koran, dan bercanda dengan teman.

Anda hanya diam. Karena sebenarnya dilarang berbicara saat kotbah Jumat.

Seorang anak berkaos merah tampak bercanda dengan seorang teman yang lebih tinggi, berkaos bola warna biru. Anda memperkirakan usia si kecil sekitar tujuh tahun. Sementara yang lebih besar sudah lebih dari sepuluh tahun. Di sela bercanda, sang anak berkaos merah tiba-tiba berlari, mengincar seorang calon pembeli. Sekeping uang logam seratus rupiah jatuh dari sakunya tanpa berbunyi.

Tidak ada yang melihat ini, kecuali Anda. Oh, tidak juga. Teman sang anak melihatnya. Dia mendekati uang itu. Namun, alih-alih mengambil, ia malah menginjaknya. Ia lantas berdiri tenang. Menunggu. Setelah si kaos merah agak jauh, ia melihat sekeliling, mengambil uang tersebut dan mengantunginya.

Anda terkesiap. Apalagi setelah itu, si kaos bola warna biru kembali bercanda dengan si kaos merah. Seakan tidak ada apa-apa.

Memang tidak ada apa-apa. Kalau saja Anda tidak memergokinya. Apakah yang akan Anda lakukan?
(a) Langsung bangkit dan memarahi si kaos biru. Karena perbuatannya melanggar perintah agama. Tentu saja, dengan berbuat begitu, Anda juga sama bersalahnya. Karena tidak boleh berbicara selama kotbah. Tapi toh, yang penting Anda sudah menegakkan tiang agama. Caranya nggak masalah dong! Yang penting Anda merasa benar. Dan orang-orang melihat bahwa Anda memiliki posisi yang benar. Kalau nggak, Anda bisa menjelaskannya ke semua orang. Tentu saja! Pendapat orang lain juga penting. Yang salah kan dia. Berarti Anda tidak salah.

(b) Menunggu salat Jumat selesai baru memarahi anak tersebut. Tidak masalah waktunya sudah nggak pas. Toh anak itu nggak akan bisa berkelit. Siapa yang lebih kredibel? Seorang anak penjaja koran atau Anda? Jelas Anda! Masyarakat menilai dari usia dan kepintaran berbicara. Lihat saja sinetron. Oke, ini contoh yang salah. Tapi Anda tahu orang-orang lain pasti mengerti maksud Anda.

c) Menunggu salat Jumat selesai lantas mengajak anak itu untuk berbicara empat mata. Dengan penuh semangat, Anda menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun mendatang, persahabatan akan jauh lebih penting daripada uang--apalagi hanya seratus rupiah. Tentu saja, dia akan menjawab, "Saya perlu makannya hari ini, Pak. Bukan bertahun-tahun lagi." Anda kembali menyampaikan bahwa kaos bola yang bersih dan sandal gunung yang ia pakai sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia kurang makan. Anda pun melangkah pergi dengan berbangga hati. Anda telah membuat seorang anak mendapatkan ajaran penting. Oke, mungkin dia pergi sambil menggerutu dan memaki-maki. Tapi dalam hati, pasti dia tahu Anda benar! Kenapa nggak? Benar, kan? Kan?

(d) Anda pura-pura tidak melihat saja. Bukan urusan Anda. Dengan begitu, Anda telah mengajarkan pada sang anak panduan kehidupan penting: dia bisa melakukan pelanggaran, asalkan tidak ketahuan. Ini panduan yang penting. Semua orang melakukannya kok. Iya, kan? Oh, nggak, Anda tidak menuduh siapa-siapa kok. Anda hanya maklum. Maklum adalah ciri kebijaksanaan. Atau ketidakpedulian. Tapi kebijaksanaan terdengar lebih enak. Ya, betul, merasa bijak itu menyenangkan. Bijaksana saja lah kalau begitu.

(e) Anda melihat semua pilihan yang ada dan jadi bingung sendiri. Waktu semakin berlalu. Dan semakin tidak relevanlah kalau anda menegur anak itu sekarang. Anda berhenti, menoleh pada si anak. Lalu jalan lagi. Berhenti. Jalan. Berhenti. Sudah terlalu jauh. Sudahlah. Mendingan menulis saja di blog. Dengan begitu, Anda akan berbagi kebingungan dengan orang lain. Dan dengan begitu, Anda jadi tidak merasa begitu kesepian. Ada teman. Walau itu tidak mengubah fakta bahwa Anda jadinya tidak melakukan apa pun, dan sama saja dengan pilihan (d). Anda hanya lebih pretensius dan konformis.

(f) Suatu tindakan yang begitu bagus sehingga Anda tidak tahan untuk tidak menuliskannya di bagian komentar untuk menunjukkan, "Kok gini aja nggak kepikiran sih?" Tentu saja Anda tahu bahwa pada kenyataannya, hal yang Anda tulis bisa jadi tidak akan sempat Anda pikirkan karena kondisi nyata berbeda dengan kondisi santai membaca di komputer tanpa merasa terlibat. Tapi toh, apa bedanya? Yang penting Anda bisa menulis apa yang Anda mau lakukan. Dan itu membuat Anda merasa benar. Dan merasa benar itu begituuuuu enak. Aaaaaah.

40 CommentsChronological   Reverse   Threaded
richoz wrote on Nov 16, '07
(g) Menunggu salat jumat selesai. Kalau mereka masih ada, samperin. Bilang ke anak berkaos merah, "Tadi duitnya jatuh seratus rupiah." Lalu berikan padanya dua ratus rupiah. Bilang ke anak berkaos bola biru, "Tadi saya lihat kamu melihat uang si anak berbaju merah jatuh dan kamu simpan di kantongmu." Lalu berikan padanya seratus rupiah.
chezumar wrote on Nov 16, '07
Sehabis solat, saya bilang ke kaus merah, "tadi uang kamu seribuan jatuh - hiperbola aja sedikit -, terus diambil sama temanmu si baju biru."

Terus tunggu reaksi dia.
anakhalal wrote on Nov 16, '07
Kak Isman, tidak boleh berbicara selagi khutbah Jumat itu kan seyogyanya supaya jamaah mendengarkan khutbahnya kan? Bukannya diam tapi kepalanya sibuk mikir enam poin diatas :D
motemo wrote on Nov 16, '07
atau ... pergi ke tukang aqua beli aqua botol dingin ... soalnya mikir sampe 6 poin itu bikin kepala panas deh ...
chezumar wrote on Nov 16, '07, edited on Nov 16, '07
Kalo alas solatnya koran, pasti yang kepikiran bukan isi khotbah, tapi headline berita, rubrik teknologi dan iklan baris ... "Geblek Roy Marten, ngakunya udah tobat malah nyabu lagi ... ehmmm kayaknya bagus juga henpon tipis kayak begini ... Halah ini iklan pijat vulgar banget yah"
thefool wrote on Nov 16, '07
richoz said
(g) Menunggu salat jumat selesai. Kalau mereka masih ada, samperin. Bilang ke anak berkaos merah, "Tadi duitnya jatuh seratus rupiah." Lalu berikan padanya dua ratus rupiah. Bilang ke anak berkaos bola biru, "Tadi saya lihat kamu melihat uang si anak berbaju merah jatuh dan kamu simpan di kantongmu." Lalu berikan padanya seratus rupiah.
Richoz! Aku padamu!
thefool wrote on Nov 16, '07
Kak Isman, tidak boleh berbicara selagi khutbah Jumat itu kan seyogyanya supaya jamaah mendengarkan khutbahnya kan? Bukannya diam tapi kepalanya sibuk mikir enam poin diatas :D
Iya, mestinya kutambahin tuh di poin (h). G dah ama Ichoz.

BTW, Ris, untuk ke yang ke-13 kalinya (bahkan sampe kuhitung), memanggilku jangan pake embel-embel kayak "Kak" dan sekitarnya dong.
thefool wrote on Nov 16, '07
motemo said
atau ... pergi ke tukang aqua beli aqua botol dingin ... soalnya mikir sampe 6 poin itu bikin kepala panas deh ...
Dan akhirnya nggak ngaruh pula.
thefool wrote on Nov 16, '07
Kalo alas solatnya koran, pasti yang kepikiran bukan isi khotbah, tapi headline berita, rubrik teknologi dan iklan baris
Apalagi kalau bagian untuk sujudnya pas berita tentang video klip Britney Spears terbaru (dengan skrinsyut).
motemo wrote on Nov 16, '07
thefool said
BTW, Ris, untuk ke yang ke-13 kalinya (bahkan sampe kuhitung), memanggilku jangan pake embel-embel kayak "Kak" dan sekitarnya dong.
you have to set the border or limit, Man ... gak cukup bilang kak dan sekitarnya ... kalo elo sampe lemes dan tidak bernapas itu kan bukan salah kita (kita?!?! eloooo kaleee) ... bukan begitu, Man?

Man = Paman Isman

*ngeloyor noyor tukang rujak beubeuk*
chezumar wrote on Nov 16, '07
Btw, kalo dari dulu belanja koran bekas itu dikumpulin, Mesjid Salman udah bisa beli karpet kali yah.
thefool wrote on Nov 16, '07
motemo said
Man = Paman Isman
Kalau gitu Q apa dong? Qaqaq Qiqi?
Comment deleted at the request of the author.
anakhalal wrote on Nov 16, '07
thefool said
BTW, Ris, untuk ke yang ke-13 kalinya (bahkan sampe kuhitung), memanggilku jangan pake embel-embel kayak "Kak" dan sekitarnya dong.
Baiklah, Kisanak..
thefool wrote on Nov 16, '07
Btw, kalo dari dulu belanja koran bekas itu dikumpulin, Mesjid Salman udah bisa beli karpet kali yah.
Yang jualan agen bebas sih, Mar. Kalau konsinyasi ama Salman sih bisa jadi. Tapi jemaahnya kan ampe salat di rumput, jalan setapak, ama koridor. Itu udah di luar batas karpet.
Comment deleted at the request of the author.
thefool wrote on Nov 16, '07, edited on Nov 16, '07
Baiklah, Kisanak..
Kuempaskan hingga sepuluh depa, kau. Atau kutarapung bolak-balik selama dua peminuman teh.
zaydfaza wrote on Nov 16, '07, edited on Nov 16, '07
Kalu saya, mngkin tidak perlu menungu Jumatan selesai, spt kata Kang Isman, keburu kehilangan relevansinya. Lagi pula bicara selama khatib berkhotbah sepertinya masih ada yang membolehkan. Asal kita tidak ngajak ngomong ama khatibnya. Hehe
trewelu wrote on Nov 16, '07
Waktu mereka ngobrol sementara khotib berbicara, dikasih tanda buat diem Mas :D.
Terus kasih duit 200 ke anak berkaos merah, sambil melototin anak yang berkaos biru.
Terus duduk dengan tenang dan mendengarkan khotib kembali.
Setelah jumatan selesai, kalau mereka masih di situ, baru diceramahin. :D Masih relevan karena sebelumnya udah memberi pertanda ada masalah.
richoz wrote on Nov 16, '07
... dengan harapan, minggu depan, di tempat yang sama, salah satu dari anak itu akan menjatuhkan selembar uang seratus ribu. Dan saya sudah siap di posisi yang paling tepat untuk mengambilnya duluan.
Comment deleted at the request of the author.
thefool wrote on Nov 16, '07
spt kata Kang Isman,
Lah, ini pula pake "Kang".
thefool wrote on Nov 16, '07
trewelu said
dikasih tanda buat diem Mas
Mas... ... ... Ya, ya. Apalagi yang belum, coba? Ayo, ayo, silakan.
trewelu wrote on Nov 16, '07
thefool said
Mas... ... ...
Lagi sensi ama umur ya? Jadi udah berapa uban yang tumbuh? Kekeke
jmave wrote on Nov 16, '07
oom.... cepek dong oom....
thefool wrote on Nov 16, '07
trewelu said
Lagi sensi ama umur ya? Jadi udah berapa uban yang tumbuh? Kekeke
Ah. Ini nih contoh stereotipe Indonesia. Kalau ada yang nggak suka dipanggil pake honorrific, dianggapnya karena nggak mau ngerasa tua. Padahal alasannya sederhana aja: aku nggak butuh embel-embel itu. Honorrific seperti Mas, Om, Pak dll itu kan--konon--merupakan budaya kita untuk menghormati orang lain (terutama yang setara atau lebih tua).

Tapi aku nggak butuh itu. Jadi aku memilih untuk tidak mau dipanggil dengan embel-embel seperti itu. Kalau yang lain butuh, ya nggak masalah. Aku sih tetap manggil orang lain dengan Pak, Mas, Bu, Tante, dll. Karena mereka tampaknya baik-baik saja dengan begitu.

Tapi aku tidak. Nama depan saja cukup. Isman. Titik.

Tapi itu kalau emang mau menghormati pilihan saya. Sebagian besar orang yang saya minta begitu lebih suka tetap memanggil embel-embel karena merasa "tidak sopan". Tidak sopan? Anda menolak menghormati preferensi saya dan merasa lebih sopan? Boleh saja. Silakan. Tapi jangan salah. Yang Anda "sopan santuni" adalah diri sendiri.

(Weits, nulis dua belas baris serius. Rekor baru!)
thefool wrote on Nov 16, '07
jmave said
oom.... cepek dong oom....
Nulis lagu Blog Nasional aja! Ntar dapet laptop.
trewelu wrote on Nov 16, '07
Wah, cocok jadi postingan baru! Ato emang udah ada postingan yang gak kubaca ya? :D

Bilangnya baru skrg sih Mas... Ups keceplos lagi kan... :D Udah kebiasaan sih. Coba kalo bilangnya dari 8 tahun yll. Ato preferensi baru?
rikigede wrote on Nov 16, '07
wah.. masalahnya kalo sholat jumat gue pasti tidur.

tadi aja, abis tahiyatul masjid, gue langsung tidur bablas sampe iqamat. mayan, 20 menitan tidur siang.
unbelievayble wrote on Nov 16, '07
thefool said
Richoz! Aku padamu!
Saya baru baca!!
tapi sebelom baca komennya ichoz saya juga mikir hal yang sama, lhooo


errrr

gak persis sih..
tapi niat mau ngegantiin uangnya si anak yg jatoh :D
loopeen wrote on Nov 16, '07
thefool said
Kuempaskan hingga sepuluh depa, kau. Atau kutarapung bolak-balik selama dua peminuman teh.
Numpang Ngikik Heula, Kang.. Errr... Man...
;))
arweneldarin wrote on Nov 16, '07
Dik Isman, saya punya pilihan i: sebelum ada yg sadar, samber uang 100-an itu buru2, kalau perlu singkirkan kaki si Kaos Biru dan bentak, "gue liat duluan!"
pipooh wrote on Nov 16, '07, edited on Nov 16, '07
Penasaran saja, kotbahnya saat itu tentang apa, Man?
roelworks wrote on Nov 16, '07
kayak e...kalau f skillnya masih jauh dari kang isman
thefool wrote on Nov 17, '07
trewelu said
Coba kalo bilangnya dari 8 tahun yll. Ato preferensi baru?
Ealah, udah pernah kubilang lagi ke kamu, Rin. Lupa, ya? Ini preferensi lama, dari zaman SMA. Tapi, dulu diam-diam aja. Soalnya coba aja bayangin anak SMA ngomong, "Jangan panggil gue, Dek, ya. Gue nggak butuh dihormati."

Jadinya malah bikin mayoritas orang pengin nendang tu anak SMA.

Kalau sering ketemu di himpunan sih, biasanya aku ngomong ke beberapa anak yang emang udah teman. Soalnya kalau belum begitu kenal, biasanya mereka defaultnya ya begitu, "Takut dianggap tua ya, Mas?" Males ngulang siaran pers, hehe.
thefool wrote on Nov 17, '07
wah.. masalahnya kalo sholat jumat gue pasti tidur.
Oh, ya... ntar tambahin deh buat pilihan (i).
thefool wrote on Nov 17, '07
Dik Isman, saya punya pilihan i: sebelum ada yg sadar, samber uang 100-an itu buru2, kalau perlu singkirkan kaki si Kaos Biru dan bentak, "gue liat duluan!"
Baik duhai Baginda Ibu Peri Poppy Penguasa Dunia Fantasi Tulen yang Bukan Terletak di Ancol Sono. Itu menjadi bagian (j).

Bagaimana kalau kita tambahkan pilihan (k): setelah merebut duit sampai ngos-ngosan, itu duit kita masukkin kencleng. Terus kita sampaikan terima kasih buat si kaos merah.
thefool wrote on Nov 17, '07
pipooh said
Penasaran saja, kotbahnya saat itu tentang apa, Man?
Kotbahnya sih rame. Tentang Negara Islam--yang sering bikin anak orang (perempuan) ngilang terus muncul-muncul udah jadi bini urutan ke-n (saking banyaknya) salah satu pemimpinnya.
thefool wrote on Nov 17, '07
Saya baru baca!!
tapi sebelom baca komennya ichoz saya juga mikir hal yang sama, lhooo
Percaya kok, Vanya. Konon kabarnya kalau dua orang sering nyambung dan nyelaras (aduh ini bahasa apaaaa?)--keduanya akan memiliki pola pikir yang serupa.
thefool wrote on Nov 17, '07
dari kang isman
Idih. Om Roel gitu deh.
Add a Comment